KEBAIKAN BERSAMA

Setiap orang menginginkan kebaikan.Namun kebaikan yang diinginkan adalah kebaikan pribadi, sehingga terjadi konflik kepentingan dalam memperjuangkan kebaikan . Konflik kepentingan dalam memperjuangkan kebaikan menodai nilai  kebaikan itu sendiri.

 

Manusia hidup dan ada bersama, keberadaannya tidak hanya sekedar ada bersama (tinggal bersama) dengan orang lain. Lebih dari itu, ia tinggal bersama dan saling berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya dan berbagi untuk saling mengisi segala kelemahan yang dimiliki. Hal ini merupakan idealisasi yang diinginkan oleh semua orang sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia serta pembentukan hidup bersama. Jika hal  ini terealisasi dalam suatu masyarakat, maka istilah “aku” dan “dia”, “kami” dan “mereka” tidak mungkin terdengar lagi, yang ada hanyalah kita.

            Jika kata kami dan kita menjadi bahasa umum yang berlaku, maka sudah barang tentu pengelompokan manusia berdasarkan warna kulit, kaya miskin, agama atau suku tidak terjadi lagi. Lebih dari itu, kesenjangan sosial menjadi sangat tidak kentara sebab setiap orang berusaha untuk peduli terhadap saudara yang lain. Kehidupan yang dibangun atas dasar kebersamaan menjadi dasar para filsuf mengatakan : sesama merupakan aku yang  lain atau sebagai saudara. Karena mereka adalah aku yang lain dan saudara maka sebagaimana aku memperlakukan diriku, demikian juga aku memperlakukan orang lain.

            Akan tetapi dalam kenyataannya, konsep tentang manusia sebagai aku yang lain atau saudara hanya sebatas ucapan pemanis bibir atau hanya digunakan sekedar untuk mendapatkan simpati publik demi menggolkan misi pribadi. Dikatakan demikian, karena kenyataannya yang terjadi dalam kehidupan bersama adalah orang lain dipandang sebagai ancaman atau dalam bahasa Jean Paul Sartre sesama sebagai “neraka”. Maka untuk bisa bertahan dalam kebersamaan, setiap orang harus memilki jurus andalan untuk melumpuhkan orang lain demi kejayaan pribadi.

            Bila dipandang dari tingkatan pola hubungan manusia, kehidupan seperti ini masuk dalam kategori hubungan obyek-obyek. Setiap pribadi atau kelompok dalam masyarakat berusaha memperkuat diri dengan berbagai cara dan belajar mengenal kelemahan lawan yang bisa dijadikan sebagai sasaran serangan yang mematikan. Di saat yang sama kelompok lain yang menjadi obyek berusaha mengobyekkan orang lain atau kelompok lain dan menjalankan usaha yang sama. Pola hubungan masyarakat yang demikian merupakan dasar refleksi   Hobes yang mencapai kesimpulan, homo homini lupus (manusia serigala untuk sesamanya).

            Dalam pertarungan ini, siapa yang keluar sebagai pemenang menempatkan diri sebagai subyek yang paling pantas untuk menentukan arah kehidupan bersama atau orang lain yang ada disekitarnya. Sementara mereka yang kalah akan menjadi obyek yang senantiasa siap sedia menerima perlakukan dari mereka yang menempatkan diri sebagai subyek. Kehidupan seperti ini sangat mengancam sebuah kebersamaan, sebab usaha yang dilakukan kelompok-kelompok yang ada dalam kebersamaan hanya berkisar antara mengokohkan kekuasaan bagi mereka yang sedang berkuasa dengan berbagai cara sementara mereka yang tidak berkuasa berusaha untuk merebut dengan semangat balas dendam.

            Pola hubungan obyek-obyek sungguh menyata dalam kehidupan masyarakat saat ini terutama menjelang suksesi kepemimpinan, saat suksesi dan setelahnya, entah itu pemilihan Kepala Daerah tingkat I dan II maupun Presiden. Orang membentuk kelompok, menyusun strategi untuk memenangkan persaingan. Usaha seperi ini sah-sah saja bila kelompok yang dibentuk sekedar untuk merumuskan tujuan hidup bersama yang lebih baik serta cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut dan menawarkannya secara santun dan benar kepada masyarakat.

Tetapi yang menjadi persoalannya, kelompok yang dibuat sebagai bentuk loyalitas buta terhadap salah satu kandidat. Bentuk loyalitas yang diberikan juga tidak terukur sehingga menghalalkan segala cara seperti : money politic, ancam – teror, menjelek-jelekan kandidat lain atau berusaha menggembos kelompok lain dengan jalan spionase (orang dibayar dengan harga mahal) sebagai informan terutama untuk mengetahui rencana kelompok lain.

Penggalangan massa untuk mempengaruhi .... yang berujung pada tawuran antara pendukung.

Dari beberapa fakta di atas, kita patut meragukan niat baik dari para calon  pemimpin kita yang mereka propagandakan saat kampanye, dimana mereka maju untuk  menjadi pemimpin terdorong oleh kerinduan untuk mengusahakan kesejahteraan rakyat. Jika selama proses untuk menjadi pemimpin mereka sudah mengkotakan masyarakat dan bahkan membiarkan pendukungnya bentrok dengan pendukung kandidat lain, terus kita bertanya, masyarakat mana yang mereka upayakan kesejahteraannya, pendukungnya saja ataukah peningkatan kesejahteraan hanya sebatas kalimat pemanis untuk mendapatkan simpati rakyat namun jauh dibalik itu merupakan ambisi untuk mendapatkan kekuasaan sehingga bisa dengan leluasa mengatur segala bentuk kebijakan yang bermuara pada dirinya sendiri atau kelompoknya.  

Menjadi pertanyaan untuk semua orang, apakah cara hidup seperti ini harus tetap dipertahankan? Jika jawabannya ya, maka kita tidak pantas menyebut diri sebagai manusia, sebab manusia memilki tujuan luhur hidupnya yaitu untuk mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki penciptanya. Akan tetapi, jika jawaban yang diberikan adalah ‘tidak’ maka harus ada langkah konkrit untuk menghancurkan cara hidup yang dilandasi oleh permusuhan yang memisahhkan manusia atau kelompok yang satu dengan yang lain. Manusia harus hidup sesuai dengan tujuannya yaitu mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan itu harus terealisasi dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Karena itu setiap orang harus berusaha untuk mengambil bagian dalam usaha untuk terciptanya bonum commune (kebaikan untuk semua).

            Bonum commune harus menjadi tujuan utama dan bersama. Maksudnya, kebaikan bersama harus menjadi ttujuan utama dari setiap usaha ataupun aturan-aturan yang dibuat dalam kebersamaan, bonum commune juga dapat dirasakan oleh semua orang tidak hanya sekedar cita-cita. Untuk mencapai kebaikan bersama, setiap individu yang ada dalam kebersamaan harus diberi peran untuk mengambil bagian dalam usaha untuk mencapai bonum commune tersebut. Bonum commune harus menjadi spirit yang mendorong  setiap insan untuk bergerak maju. Untuk bisa memperjuangkan kebaikan bersama, setiap orang hendaknya membebaskan diri dari kepentingan pribadi yang sifatnya sesaat dan menyesatkan. Membebaskan diri dari kepentingan pribadi yang sesaat bukan perkara mudah semudah membalikan telapak tangan. Dibutuhkan hati yang bersih dan komitmen kuat.

            Hati yang bersih dan komitmen yang kuat hanya mungkin bisa dimiilki manusia jika batinnya disemangati oleh cahaya iman. Cahaya iman yang senantiasa membimbing kita untk lebih maju dan memperjuangkan kebaikan demi kebaikan itu sendiri, bukan untuk menorehkan tinta emas pribadi sebagai dasar untuk membanggakan diri dihadapan orang lain. Orang yang tidak mendasarkan perjuangannya pada cahaya iman, akan cenderung memamerkan kebaikan dan menempatkan diri sebagai pahlawan kebaikan yang pada gilirannya merusak kebersamaan serta menghambat terciptanya kebaikan bersama. 

Comments