KOTA TANGERANG: PINTU MASUK TAK BERKESAN

Dalam satu seminar  yang bertema: Pencegahan Narkoba Masuk Dunia Sekolah yang diselenggarakan Dinas Kota Tangerang tahun 2012. Seorang narasumber  mengucapkan kalimat pembukanya seperti ini: “kita harus bangga menjadi warga Kota Tangerang karena Kota Tangerang merupakan pintu masuk bagi orang dari luar masuk Indonesia dan pintu keluar bagi orang Indonesia. Namun kita harus waspada sebab sebagai pintu masuk dan keluar untuk orang baik, Tangerang juga menjadi pintu masuk bagi orang-orang yang tidak baik seperti:  teroris dan pengedar narkoba”. Kemudian narasumber tersebut melanjutkan pemaparannya tentang ancaman serius yang dihadapi negara yaitu teroris dan narkoba. Kalimat pembuka sang narasumber menarik perhatian sehingga saya berusaha mengikuti ulasan materinya dengan penuh semangat. Sejak saat itu tumbuh rasa bangga dan cintaku terhadap kota pintu gerbang negara yang bersemboyan: AKHLAKUL QARIMAH

Akhlaqul Karimah berarti berjiwa atau bermoral baik berdasarkan iman Islamiah. Hal ini berarti bahwa tuntunan jiwa yang disegarkan oleh nilai-nilai agama menjadi dasar bagi seluruh kehidupan masyarakat Kota Tangerang serta pelayanan publik dari tingkat Kota sampai ke tinggkat RT. Dalam mars Kota Tangerang ada kalimat “nuansa agama tetap lekat memberi warna dalam tatanan kehidupan yang berbudaya”. Dan diakhir lagu mars tersebut ada komitmen bahwa warga Kota Tangerang siap membangun bangsa.

Bila kita merunut semboyan besar Kota Tangerang : Kota Akhlaqul Karimah, yang diikuti mars yang sangat bagus, maka ini merupakan visi besar yang ke depan bisa menjadikan Kota Tangerang  sebagai pintu gerbang negara yang bisa dinikmati baik oleh masyarakat lain di Indonesia maupun oleh masyarakat dari luar serta menjadikan Tangerang sebagai acuan dalam membangun kota yang beradab.

Kota Tangerang yang bersemboyan Akhlaqul Karimah sudah berjalan bertahun-tahun. Menjadi pertanyaan untuk kita semua adalah seberapa sukses semboyan ini memengaruhi kehidupan masyarakat Kota Tangerang, dalam hal prilaku, tutur kata, pelayanan publik dan kerukunan hidup warga, prestasi dan lain sebagainya.  Bila kita jujur melihat pelayanan publik serta perilaku masyarakat Kota Tangerang, kita harus jujur mengatakan bahwa perilaku dan lain sebagainya dari masyarakat Kota Tangerang, tidak masih standar seperti kehiduupan masyarakat daerah lain yang tidak memiliki semboyan akhlaqul karimah.

Hal ini terjadi karena visi besar  Kota Akhlakul Karimah ini masih menjadi slogan kosong yang tak bernyawa. Dikatakan demikian karena eksekusinya belum nyata dalam program-program konkrit  sehingga mampu mengubah mental seluruh warga Kota Tangerang menjadi manusia yang beriman, bermoral dan berbudaya dalam seluruh aspek kehidupan.

Sebagai contoh  dalam hal pelayanan publik, para pejabat termasuk Walikota masih menjaga jarak dengan masyarakat yang dilayaninya, malah masih menempatkan diri sebagai bos yang harus dihormati dan dilayani. Dalam banyak urusan masyarakatmemiliki kesulitan birokratis. Media yang digunakan  masyarakat untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Walikota tidak ada atau kalaupun ada hanya diketahui orang-orang tertentu saja. Alhasil banyak masyarakat yang ditelantarkan. Misalnya satu contoh konkrit yang dialami salah satu warga di Kelurahan Pajang pada bulan.... Dia ditabrak lari di jalan raya Bandara Soekarno Hatta dengan luka dibagian kepala. Keluarga membawanya ke rumah sakit umum Tangerang. Di sana dia tidak mendapatkan perawatan dengan alasan tidak memiliki alat yang cukup memadai untuk menangani kecelakaan tersebut. Kemudian di rujuk ke RS Alam Sutera. Akan tetapi karena tidak mampu membayar, pihak keluarga terpaksa membawanya pulang ke rumah sampai meregang nyawa. Andaikata masyarakat memiliki akses langsung ke Wali Kota mungkin saja hal ini tidak terjadi atau mungkin korbannya meninggal tetapi setelah mendapatkan pelayanan yang maksimal. Ironis memang, Kota yang mengagungkan moral dan akhlak alergi terhadap perkembangan tekhnologi sehingga tidak mau menggunakan media sosial. Alhasil tidak bisam engetahui persoalan masyarakat lebih cepat sehingga pelayananpun melambat.

Dalam dunia pendidikan, kita juga tidak melihat prestasi pendidikan yang baik. Tak heran, para orang tua sampai kasak-kusuk mencarikan sekolah-sekolah yang didambakan setiap awal tahun pelajaran. Bahkan tidak sedikit masyarakat Kota Tangerang mencari Sekolah Di DKI karena dipandang kualitasnya lebih baik dari Tangerang. Tujuannya jelas, agar anak-anak mendapatkan “kereta cepat” untuk meraih masa depan yang gemilang.
Fakta demikian sejatinya tidak perlu terjadi, andaisaja pemerintah mampu menciptakan program pendidikan yang bermutu, dan berdaya saing tinggi secara merata sehingga sekolah manapun yang didirikan mampu menjamin kebermutuan sekaligus terdesin sebagai “kereta express” untuk masa depan anak-anak bangsa yang gemilang serta pada gilirannya dapat menjadi jaminan pula bagi kemajuan, dan kemandirian bangsa Indonesia di era persaingan pada tingkat global mondial. Sebab pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, pendidikan justru seringkali tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada. Apa penyakit pendidikan kita? Penyakit yang utama adalah karena salah urus. pendidikan kita sebatas menghasilkan “manusia robot”, pendidikan yang berat sebelah, dan tidak seimbang. Pendidikan kita telah mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berpikir. Sebab ketika orang sedang belajar, maka orang tersebut melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, dan sebagainya.
Makna pendidikan yang hakiki merujuk pada sebuah kondisi yang mampu memberikan ruang kesadaran kepada peserta didik untuk mengembangkan jatidirinya melalui sebuah proses yang menyenangkan, terbuka, tidak terbelenggu dalam suasana monoton, kaku, dan menegangkan. Diakui atau tidak, pendidikan kita selama ini belum sanggup melahirkan generasi yang utuh jatidirinya. Mereka memang cerdas, tetapi kehilangan sikap jujur dan rendah hati. Mereka terampil, tetapi kurang menghargai sikap tenggang rasa dan toleransi. Imbasnya, nilai-nilai kesalehan, baik individu maupun sosial, menjadi sirna
Atmosfer pendidikan yang kurang kondusif semacam itu diperparah dengan situasi lingkungan yang serba permisif, apatis, dan masa bodoh. Pada sisi yang lain, institusi keluarga yang mestinya menjadi penanam nilai-nilai religi, kultural, dan kemanusiaan, dinilai juga telah tereduksi oleh berbagai kesibukan orang tua dalam memburu standar hidup dan gebyar materi. Persoalan pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan formal. Maka pengalaman selama bertahun-tahun telah memberikan pelajaran berharga bahwa pendidikan yang tidak berbasiskan kemanusiaan hanya akan melahirkan manusia yang cerdas dan terampil, tetapi kehilangan hati nurani dan perasaan. Ini artinya, revitalisasi pendidikan kemanusiaan semakin urgen dan relevan untuk diimplementasikan di tingkat praksis agar tidak terapung-apung dalam bentangan slogan, retorika, dan jargon belaka.
Sungguh terasa ironis kalau bangsa kita yang selama ini dokenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi, mengagungkan keluhuran budi, dan kesantunan berperilaku, akhirnya terjebak menjadi bangsa bar-bar, “kanibal”, dan pendendam, hanya lantaran pendidikan yang salah urus. Agaknya, sudah sangat mendesak dunia pendidikan kita disentuh oleh hal-hal yang bersifat humanistis dan religius

Comments