MARI IKUTILAH AKU

 

Nama merupakan identitas yang melekat erat dalam diri manusia sejak lahir yang diberikan orang tua kepada anaknya. Nama juga menunjukkan orangnya. Dengan  nama, kita bisa disapa dan di panggil untuk disayang dan dicintai. Nama mempunyai nilai inti diri yang menyangkut kepribadian secara menyeluruh. Bagi orang Timur, nama selalu mengarah pada asal dan budaya tertentu yang mempunyai relasi dengan leluhur. Berkat nama orang bisa dipanggil secara pribadi, dan dengan demikian orang yang dipanggil juga  memberi reaksi panggilan tersebut secara pribadi pula.

 

Penginjil  Matius berkisah tentang panggilan  murid- murid yang pertama di tepi pantai Galilea. Berawal dari sebuah perjalanan yang sekedar berekreasi tapi mengandung makna  yang dalam. Dalam  pertemuan itu ada ajakan dari Yesus yang bersifat undangan, lalu dijawab secara spontan oleh dua pasangan bersaudara tanpa kalkulasi untung dan rugi. Selanjutnya pertemuan itu membawa perubahan hidup bagi dua pasangan bersaudara yaitu Simon yang disebut Petrus dan Andreas bersama Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus. Mereka yang semula penjala ikan, berubah menjadi penjala manusia.

Bila kita menelusuri kisah panggilan diatas, ada tiga hal penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus, antara lain: Pertama, pertemuan. Pertemuan yang tidak formal dan sakral antara Yesus dan pengikutNya ditepi Danau Galilea membawa perubahan diri dan peran pengikutNya. Lebih dari itu dalam kisah pertemuan dan kontak batin ada perasaan jatuh cinta untuk tinggal bersama. Benarlah ungkapan yang mengatakan;  setiap langkah pasti meninggalkan jejak dan setiap pertemuan pasti melepaskan pesan dan kesan tersendiri. Pertemuan ini sebagai langkah awal perubahan peran dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Kedua, Undangan. Inisiatip datangnya dari Tuhan (Yesus). Yesus melihat dalam diri beberapa orang ini ada hal menarik yang bisa disumbangkan untuk karya pewartaan. Yesus mengundang mereka secara pribadi dengan menyebut nama, agar mereka juga bisa memberikan tanggapan secara pribadi.

Ketiga, Tanggapan. Sapaan dan undangan Yesus kepada beberapa orang itu ternyata menyentuh hati mereka. Mereka memberikan jawaban atas undangan tersebut dengan meninggalkan rutinitas mereka sebagai penjala ikan dan segera bergabung dengan Yesus untuk menjadi penjala manusia.

 

Menarik untuk dicermati di sini adalah dimana para murid tidak mempertanyakan banyak hal tentang tugas baru mereka. Mereka menaruh kepercayaan penuh kepada Yesus yang memanggil mereka. Hal ini sangat bertentangan dengan kebiasaan  manusia umumnya yang senantiasa mempertanyakan sesuatu hal baru yang ditemukannya serta menanyakan kepastian baru bisa mengikutinya.

Kisah Yesus memanggil muridNya ditepi Danau Galilea  lewat ajakan “Mari  Ikutilah Aku” juga dialamatkan  kepada semua orang dewasa ini. Bila kita mengingat kisah panggilan Nabi Yeremia, Allah menyatakan bahwa Dia telah mengenal dan menetapkan Yeremia untuk menjadi nabi sebelum terbentuk dalam rahim ibunya. Dari pernyataan, mau dikatakan bahwa kita semua umat manusia diciptakan Allah dengan misi dan tugas khusus yang diberikan Allah kepada kita untuk dijalankan.

 

Sejalan dengan konsep di atas, apa pun peran kita, pekerjaan kita, hendaknya kita melihat itu semua sebagai misi khusus yang diberikan Allah yang menuntut kita untuk menjalankannya dengan baik sesuai dengan kehendak Allah.

Jika demikian, maka tidak ada alasan untuk menolak atau mengatakan tidak mampu untuk tiap tugas yang kita emban, sebab Allah mengutus kita bukan karena kemampuan kita yang laur biasa, namun karena Allah menghendaki agar Dia menyelesaikan pekerjaanNya itu melalui tangan kita. Di sini, dibutuhkan kesetiaan dan keteguhan hati untuk melaksanakan misi perutusan kita masing-masing dengan senantiasa menyandarkan diri kepada Tuhan.

 

Orang yang selalu berpasrah kepada Tuhan akan selalu randah hati, dan tidak melihat keberhasilan yang diraihnya dalam tugas perutusan sebagai prestasi pribadi melainkan karena kuasa Tuhan yang bekerja dalam diri orang tersebut. Melaksanakan tugas perutusan dalam karya kita masing secara baik sambil menunjukan sikap rendah hati merupakan pewartaan yang paling efektif yang bisa kita lakukan untuk menyebarkan Yesus Sang Juru Selamat. Dengan demikian semakin banyak orang mengenal dan menerima Yesus sebagai penyelamat.

Comments